Cerpen, Kuliner, Musik

Rabu, 13 September 2017

Cerpen: Dua Kisah Dalam Luka

Dua Kisah Dalam Luka

Oleh: Bia R




Jangan bersedih Wilona. Masih banyak lelaki yang kuat menjaga pandang dari jalang. Air matamu sia-sia, untuk lelaki bodoh yang meninggalkanmu demi perempuan jalang itu. Ya. Perempuan yang lihai merebut lelaki dari gandengan orang itu, apa lagi kalau bukan jalang?

Berdirilah dengan tegak. Jangan sesekali
engkau berjalan terpincang. Kakimu benar-benar kuat untuk berjalan menyusuri terjalnya kehidupan, guna meraih kebahagiaanmu. Kau pasti bahagia. Asalkan, tak meratapi lagi lelaki itu. Berhentilah menangis Wilona.

Pagi ini, kubuatkan engkau semangkuk bubur kacang hijau. Sarapan yang selalu engkau minta setiap hari, sebelum kau mengenal lelaki itu. Telah lama aku tak membuatkan ini untukmu. Sejak engkau memutuskan untuk berlari dariku, dan hidup bersama si penghianat itu.
Makanlah dengan banyak wilona. Tak perlu kau hiraukan kelebat angin yang meniupkan bayangan si jalang kepadamu, hingga berulang kali kau merinduinya. Biar kututup jendela itu agar lekas kau tutup jendela hatimu untuknya.

“Jangan ditutup, Bu. Jangan!”

“Baiklah. Tapi, makan dan habiskan sarapanmu.”

Kau hanya memandangi sarapanmu nanar. Saat kecil, kau selalu marah bila tak kubuatkan sarapan bubur kacang hijau. Kini, kau hanya menatapnya dalam genangan air di pelupuk matamu, seolah sarapan ini adalah racun untukmu.

Bagiku, melihatmu marah karena kacang hijau, jauh lebih baik ketimbang melihatmu meringkuk dalam duka. Aku sudah cukup terluka menyaksikanmu ambruk di ambang pintu, dalam derasnya hujan malam yang menyamarkan isakmu sebulan lalu. Kumohon, sekalah air matamu dengan tanganmu sendiri. Aku tak sanggup jika harus menyekanya. Sebab, melihat linangannya pun telah membuat hati ini lebur.

“Aku ingin sarapan dengannya.”

Rupanya kau masih mendekam dalam mimpimu yang tinggal puing-puing itu. Lelaki itu telah pergi. Membiarkanmu sendiri dalam kehancuran bahtera kasihmu. Dan aku siap memamahmu keluar dari sana. Sebelum sisa-sisa kenangan menghantammu hingga kau terluka bahkan lumpuh.

“Apa hanya ada satu lelaki di dunia ini?”

“Tentu tidak, Bu. Tapi hanya ada satu nama di hatiku.”

“Apa ia adalah si penghianat itu? Mengapa kau mesti bertahan dengannya? Masih banyak lelaki baik untukmu. Lupakanlah ia Wilona. Ia tidak pantas menjadi ayah untuk anakmu. Carilah ayah yang lain. Sebab anakmu membutuhkan ayah di sampingnya.”

“Ibu, apakah aku telahir dengan seorang ayah di sampingku, yang menimangku saat Ibu kelelahan?”

Pertanyaanmu membuatku bisu. Kata-kata itu laksana ribuan panah yang menerjang ulu hati. Mungkinkah engkau menaruh dendam pada lalu hingga kau salin kembali catatan hidupku dalam nadirmu. Apakah engkau ingin menjadi bayanganku?

“Tidak. Tapi, Ibu tidak serapuh dirimu, Wilona.”

Aku tidak pernah menangisi penghianatan. Semua tidak ada gunanya. Air mata hanya akan menumbuhkan luka. Menyepikan diri hanya memelihara luka dalam jiwa, hingga ia tumbuh dan bahkan beranak. Aku melahirkan dan membesarkanmu dengan tanganku sendiri, dalam kekecewaan orang tua, dalam penghakiman orang. Tapi aku tidak pernah sedikit saja menangis. Menangis hanyalah kebodohan.

“Bohong! Ibu berkata seperti itu karena, Ibu tidak mengalami apa yang aku rasakan.”

Biar kuceritakan kisah hidupku yang tak pernah kau dengar sebelumnya. Dengarlah baik-baik Wilona. Agar kau tahu, bahwa kisahmu tidak lebih pilu dari apa yang kulalui.

Menikahi lelaki tanpa restu orang tua bukanlah hal mudah. Tetapi, Ayahmu lelaki yang kukuh pendiriannya. Sekali ia berucap, pantang baginya menarik ulang ucapannya.

Malam itu, ia mengetuk jendela kamarku, lalu membisikkan rencana yang tidak dapat kusanggupi. Ayahku bukan pemaaf seperti ibumu. Kendati kau berlari tanpa restu ibumu, ia tetap menerimamu kembali, dalam segala kondisi.

Janji manis Ayahmu kulumat habis malam itu. Lewat jendela kamar, aku keluar dan berlari dalam genggamannya. Sesekali kutengok rumah yang semakin samar dalam pandangan, secepat itu ia meluruskan pandanganku pada jalan pelarian. Masa depan.

Tidak ada pemberontakan yang berujung kebahagiaan. Aku mengandungmu, dan kau telah siap untuk keluar dari dinding rahimku. Tetapi, kehidupan kami masih dalam serba kurang. Itulah yang membuat ayahmu memutuskan menerima tugas yang teramat berat untuk dijalankan.

Berkali-kali aku menahannya untuk pergi. Kukatakan pada ayahmu, masih ada jalan lain untuk memenuhi hajat hidup kami, tanpa harus memilih jalan bodoh itu. Kukatakan sekali lagi. Ia adalah lelaki yang teguh pendiriannya.

Malam itu, ia berpamit. Mengecup keningku, mengusap lembut perut dimana engkau terdiam. Semua yang ia lakukan kala itu tak membuatku tenang. Tetapi aku berusaha tak menangis, karena aku hanya ingin menikmati momen terakhir bersamanya. Meski masih ada secuil harapan bahwa ia akan mengurungkan niatnya untuk pergi. Aku tahu, ada genangan air yang ia sembunyikan di balik mata teduhnya.

“Jaga baik dirimu, juga anak kita.”

Aku mematung. Menatap punggungnya yang menjauh. Aku masih berharap ia akan berbalik dan kembali. Tetapi, itu sia-sia. Ia benar-benar pergi bersama penghianatannya.

Hampir setiap waktu aku menunggunya di ambang pintu, mengusapmu yang masih bernaung dalam dinding rahimku. Menantinya muncul dari gang kecil di ujung jalan. Namun, berita di Televisi meyakinkanku, bahwa ia benar-benar pergi dan tak akan penah kembali.

“Ayah tidak pergi dengan wanita lain, Bu. Ia pergi demi Kita.”

Kau benar Wilona. Tetapi, apakah janji yang tak ditepati bisa kau sebut bukan penghianatan? Ia berjanji untuk mengarungi hidup bersama. Menanjaki jalan terjal, atau menuruni jurang kehidupan bersama. Kenyataanya, ia pergi untuk tidak pernah kembali. Mengakhiri janji dengan kematian yang ia rencanakan sendiri. Sementara aku, ia tinggalkan dengan luka yang ia goreskan dalam buku kehidupan.

Ia mati dengan cara terdurja dalam penglihatan orang. Bahkan kidung kematiannya adalah hujatan dan kutukan setiap orang. Dan seluruh penghakiman orang menjadi udara yang kuhirup sendirian.

Tak ada lagi alasan bagiku, untuk menangisinya. Sebab ia menghianatiku dengan kematian yang ia atas namakan pengorbanan. Membawa cintaku bukan pada perempuan jalang seperti yang suamimu lakukan. Bahkan ia menyembunyikan pilu dalam tubuhnya yang siap dihantam dahsyatnya ledakan. Dan dendamku adalah, menahan air mata untuk menangisinya.

Lelaki itu meninggalkanmu untuk perempuan lain. Ia masih mungkin untuk kembali padamu. Maut belum menemuinya. Tidak ada kesedihan terdalam melainkan cinta yang direnggut kematian atas nama pengorbanan. Percayalah Wilona.
Kau harus bangkit. Lahirkan anakmu, dan besarkan ia dengan hatimu yang tegar. Tak usah kau mengharapkan ia kembali. Bakhan jika keajaiban datang menghampirimu sekalipun.

“Apakah Kau ingin anak ini sepertimu?”

“Tentu tidak.” Jawabmu lirih.

“Maka berhentilah menangis. Jangan sampai ia terlahir dalam kesedihanmu. Jangan biarkan ia menyusu air mata luka, hingga ia terlatih sebagai makhluk yang rapuh. Kuatkan dirimu Wilona.”

Kau tersenyum menatapku. Mungkin pula kau melihat genangan air di mataku, sehingga kau bertanya perihal air mata ini.

“Tidak ada kesedihan bagiku jika bukan karena separuh jiwaku bersedih. Kaulah separuh jiwaku itu.”

Kau berpaling dari pandanganku. Memandangi dedaunan yang meliuk dicumbu angin. Sesekali angin itu membelai rambutmu yang terurai.

“Maafkan aku, Bu. Aku selalu membuatmu susah." Lirih suaramu merasuk rongga pendengaranku.

“Tersenyumlah.”

Seulas senyum kau lempar kearahku, dan jatuh di bola mata ini. Senyum terindah yang pernah kulihat diantara senyum indahmu yang lain. Aku balas melempar senyum, dan membelai rambutmu. Dalam pelukanku kau bersuara lirih mengucap janji. Kau telah mantap membiarkan lelaki itu pergi dan tak ada lagi air matamu untuknya. Embusan nafasmu terasa hangat di pelukanku. Kau terpulas di pelukku. Wilona, bangunlah, aku ingin merasakan lagi embusan hangat nafasmu.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar