Cerpen oleh: Bia R
Aku ingin tahu seperti apa rupa asli sosok lelaki yang sering diceritakan ibu. Meski Ibu mengatakan berulang kali akan sosok itu, aku masih belum pernah melihatnya. Katanya, ia
selalu mengenakan pakaian serba putih dengan setangkai mawar putih dalam genggamannya. Lelaki itu selalu duduk di bangku taman kami setiap senja. Ia juga selalu membawa kawanan merpati putih yang berkeliaran di sekitar taman.
selalu mengenakan pakaian serba putih dengan setangkai mawar putih dalam genggamannya. Lelaki itu selalu duduk di bangku taman kami setiap senja. Ia juga selalu membawa kawanan merpati putih yang berkeliaran di sekitar taman.
.
Taman kami telah lama tak terawat sejak ibu sibuk dengan bisnis kuenya. Aku sendiri tak pernah sempat mengurus taman atau untuk sekedar melihat keadaannya karena pekerjaanku di kantor. Ayah telah lama pergi. Bahkan ibu enggan menceritakan ke mana perginya. Beliau selalu mengucurkan air mata bila aku ingin mengenang ayah bersamanya.
“Lelaki itu tidak pernah bicara, tetapi, Ia selalu melempar senyum pada Ibu.” Ibu menutup matanya seakan tengah membayangkan sosok yang telah mengganti bayang ayah dalam hati ibu.
“Mungkin, Ia menghormati Ibu sebagai pemilik taman. Bisa saja senyumannya adalah tanda Ia meminta izin untuk duduk di taman Kita.”
“Ya, mungkin. Tapi, Kau tahu, Lun, lelaki itu sungguh berbeda dari yang lain?”
“Maksud Ibu?” tanyaku tak mengerti kemana arah ibu bicara.
“Aku sulit mengatakannya, Lun.”
“Apakah Ia tetangga baru?”
“Bukan. Rumah di sekitar sini tidak ada yang disewakan atau dijual. Lagi pula, jika ia tetangga baru, ia pasti telah mengenalkan dirinya pada kita. Tidak mungkin juga lelaki setampan itu melompati pagar taman hanya untuk duduk di sana.”
.
Mungkin sebenarnya ibu ingin mengatakan lelaki di taman itu adalah jelmaan malaikat. Atau mungkin penunggu baru taman kami. Tidak mustahil bila ada makhluk halus mengisi taman sehubungan dengan kondisinya yang kotor dan suram. Kuyakin semua itu hanya halusinasi ibu.
.
Dulu taman kami begitu indah dan terawat. Kami selalu mengurus taman itu bersama. Tidak ada yang boleh merawat taman selain kami bertiga. Taman itu adalah cermin kehidupan kami. Bila orang lain, seperti tukang kebun ikut merawat taman kami maka taman itu tidak akan terasa indah bagi kami. Pun bila keluarga kami sedang tidak baik taman akan terasa sepi dan suram seperti saat ini.
“Bu, besok Saya akan memanggil tukang kebun untuk merapikan taman di belakang.”
“Untuk apa, Lun? Kau, lupa pada perjanjian kita?”
“Tentu tidak, Bu. Taman itu harus dirawat. Saya yakin, lelaki yang sering ibu lihat adalah sosok hantu atau halusinasi Ibu yang memperingatkan untuk segera merapikan taman.”
“Ibu tidak berhalusinasi, Lun. Kau tidak percaya pada Ibu?”
“Bukan seperti itu, Bu. Maksud Saya,”
“Sudahlah, terserah. Ibu tahu, kau menganggapku gila, kan?” ibu menyela pembicaraanku.
“Tidak, Bu, maksud Saya,” belum sempat aku menuntaskan ucapanku ibu telah berdiri dan pergi ke kamarnya dengan membanting pintu.
Nampaknya aku salah lagi. Minggu lalu ibu mogok makan dan tidak mau bicara karena beliau kubawa ke psikiater. Padahal aku hanya ingin mengetahui kesehatannya. Barangkali ia menderita stres berat karena pekerjaan yang menumpuk.
.
Kuketuk pintu kamar yang tak kunjung terbuka. Meski ibu tak menyilakan masuk aku tetap menemuinya yang tengah berpura-pura tidur. Kulihat itu dari matanya yang masih mengerjap-ngerjap.
“Bu, maafkan Saya. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin taman menjadi bersih agar hantu itu segera pergi. Saya takut hantu itu akan megusik hidup kita, Bu,” bujukku seakan percaya pada cerita ibu. Ibu tersenyum dan meyakinkan bahwa aku percaya. Kujawab dengan anggukan.
“Tetapi, lelaki setampan itu tidak mungkin menjadi hantu. Ia bukan hantu, Lun.”
“Lalu?” tanyaku.
“Mungkin lelaki itu membawa pertanda.”
“Maksud Ibu?”
Biasanya bila seorang wanita yang memiliki anak gadis melihat lelaki di taman dengan pakaian serba putih, dan banyak merpati putih di sekelilingnya, wanita itu akan segera memilki mantu. Cerita ibu semakin tidak masuk akal.
“Itu kata siapa, Bu?”
“Ibu membacanya dalam tafsir mimpi.”
Artinya ibu bermimpi. Benar saja dugaanku. Ibu hanya bermimpi dan lelaki itu benar-benar tidak ada dalam dunia kami yang nyata.
“Apa ibu tidur saat sore?”
“Tidak, setiap sore ibu berdiri di sana.” Telunjuk ibu mengarah pada jendela yang telah tertutup tirai. Bila jendela itu dibuka maka yang terlihat dari sana adalah sebuah taman yang angker.
“Apa ibu yakin?”
“Ya.” Ibu berjalan menuju jendela itu dan menyingkap tirainya. Alangkah riangnya ibu melihat taman itu. Ibu mengatakan taman itu telah rapi dan bersih. Ada banyak kunang-kunang di sana. Ibu memintaku untuk segera melihatnya. Dengan perasaan campur aduk antara mustahil dan mungkin terjadi aku manut.
.
Aku ingin memastikan yang kulihat kali ini benar. Aku berjalan menuju taman. Tidak ada apapun di sana selain rumput liar yang tersorot temaram lampu taman yang ditumbuhi lumut di beberapa bagiannya. Lelaki yang sering ibu ceritakan itu tidak ada. Terbukti sudah. Ibu hanya bermimpi.
“Tamannya tidak berubah. Mana lelaki itu, Bu?”
“Mungkin Ia sudah pulang, Lun. Atau mungkin, ia bersembunyi darimu.” Ibu mengedarkan pandanganya ke sekitar taman.
“Baiklah, Bu. Ayo kita tidur. Malam sudah larut,” ajakku mengalihkan pembicaraan.
****
Aku memutuskan pulang lebih awal karena ibu menelpon. Beliau mengatakan lelaki yang sering duduk di taman itu menemuinya di dapur. Lelaki itu begitu tampan dan cahaya keemasan membalut tubuh gagahnya. Ia membawa aroma yang begitu wangi untuk dihidu. Lelaki itu mengajak ibu pergi ke taman. Ibu juga mengatakan taman benar-benar indah. Bunga bermekaran di sekelilingnya dan kupu-kupu berkeliaran di sekitar bunga yang mekar. Sekawanan merpati putih mengelilingi ibu. Ibu ingin aku segera menemui lelaki itu sebelum ia lari.
.
Yang kupikirkan saat itu bukanlah tentang lelaki dan taman melainkan kondisi ibu. Aku takut halusinasi ibu semakin tinggi dan beliau melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan.
.
Saat tiba di rumah aku tidak melihat ibu di ambang pintu. Biasanya beliau menyambutku di sana lalu mulai bercerita tentang sesosok lelaki di taman. Seluruh ruangan begitu dingin dan hening. Berulang kali kupanggil ibu tetapi tak ada jawaban. Bagaimana jika lelaki dalam hayalan ibu membawa ibu pergi ke tempat yang tak kuketahui. Aku segera berjalan menuju taman barangkali ada ibu di sana.
.
Semua yang kulihat terasa mustahil. Apa yang dikatakan ibu benar. Taman begitu bersih dan rapi. Sinar matahari yang keemasan menyoroti sebuah bangku panjang di dekat kolam. Aku menghampiri bangku itu. Ibu tengah tertidur di sana. Wajahnya begitu ayu dengan cahaya kemasan di wajahnya yang tersenyum. Nampaknya ibu memimpikan sesuatu yang indah dalam tidur pulasnya.
“Bu, bangun, Bu. Ini masih sore, jangan tidur dulu, ini belum waktunya.” Ibu masih bergeming. Kugenggam dan kucium tangan ibu yang tak lagi hangat.
Sukabumi, 5 Januari 2017
Bia R

Tidak ada komentar:
Posting Komentar