Cerpen, Kuliner, Musik

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2020

Keringat

Cerpen Bia R


1.
Orang-orang sudah berkumpul mengerubunginya dengan dandanan necis. Aroma pafrum bercampur dengan aroma bedak, aroma deodoran, aroma hairspray, dan aroma melati di ruang itu. Aroma melati menguar lebih tajam,

Selasa, 24 Maret 2020

Pohon yang Meminta Tumbal

Cerpen Bia R


Petaka besar muncul di desa itu. Kengerian menyusup ke desa yang awalnya tentram. Orang-orang menjadi penakut sekaligus pembenci karena sebuah peristiwa yang dianggap mengerikan, meski bisa jadi hanya sebuah kebetulan. Berawal dari

Minggu, 22 Maret 2020

Kopi Bahagia

Oleh: Bia R


Kemala baru saja merapikan kemeja hitamnya yang dimasukan pada rok lipit hitam yang ia kenakan. Gadis itu menatap sepatu flat beludru hitam dan berjalan dengan payung besar hitam yang

Jumat, 17 Mei 2019

Berita Duka dan Minggu yang Celaka

Cerpen Pikiran Rakyat

Oleh: Bia R

Pagi itu, di hari minggu yang teramat cerah, seorang lelaki muda menghampiri lapak penjual koran. Diambilnya dua koran nasional dari media berbeda dan satu koran lokal. Kemudian ia membayar koran-koran tersebut dengan

Sabtu, 09 Maret 2019

Seribu Cahaya di Langit Muram

Cerpen Pikiran Rakyat

Oleh: Bia R

Edisi 6 Januari 2019

Seribu Cahaya di Langit Muram

Setelah memastikan teman-teman satu kamarnya tidur, Zain dan Buyung membuka lemari pakaian.Dua bocah sebelas tahun itu memasukkan pakaian ke dalam ransel. Zain, anak yang berwajah oriental diam sejenak, kemudian menatap Buyung.
“Yung, sebaiknya kita tidak membawa apapun selain lampu ini.” Zain mengacungkan untaian lampu hias.
“Memangnya kenapa?” Buyung menghentikan gerak tangannya yang tengah melipat sarung.
“Nanti Pak Ustaz curiga. Bisa gagal lagi kita,” bisik Zain.

Minggu, 30 Desember 2018

Tubuh Marliana

Cerpen

Ilustrasi: Pixabay
Oleh: Bia R

Di depan cermin hias tua yang menempel di dinding, sesosok tubuh sintal berkulit belang sedang berdiri. Matanya yang sembab seperti sudah menangis berhari-hari terus memperhatikan wajahnya yang kusam. Terkadang ia meraba wajah itu dengan tangannya yang kasar, lalu melihat tangannya yang hitam sampai beberapa senti ke atas sikut, dan sisanya terlihat putih.
Dulu,

Kamis, 27 Desember 2018

Menjelang Panen


Cerpen Pikiran Rakyat

“Tani” karya Alanwari/ media pensil warna di atas kertas
Di pagi yang masih kelewat dini, orang-orang berduyun ke tonggoh dengan wajah penuh amarah. Mereka tidak lagi memedulikan udara yang gigil, atau perut keroncongan karena sama sekali belum diisi. Mereka tidak takut masuk angin. Tidak. Tidak ada yang mereka pedulikan selain aliran air yang kecil dan sawah yang gagal panen.

Bulu-bulu Pembunuh



Oleh: Bia R

Teriakan Bi Sumi membuat para tetangga berlari menghampirinya, juga ibu yang sibuk menuang susu ke sereal. Aku buru-buru menjejalkan sarapan, lalu berlari ke arah rumah Joice. Tadi Sumi pergi ke sana untuk mengajak sepupuku sarapan bersama.

Rabu, 13 September 2017

Cerpen: Dua Kisah Dalam Luka

Dua Kisah Dalam Luka

Oleh: Bia R




Jangan bersedih Wilona. Masih banyak lelaki yang kuat menjaga pandang dari jalang. Air matamu sia-sia, untuk lelaki bodoh yang meninggalkanmu demi perempuan jalang itu. Ya. Perempuan yang lihai merebut lelaki dari gandengan orang itu, apa lagi kalau bukan jalang?

Berdirilah dengan tegak. Jangan sesekali

Senin, 11 September 2017

Cerpen: Ibu dan Lelaki di Taman

Cerpen oleh: Bia R




Aku ingin tahu seperti apa rupa asli sosok lelaki yang sering diceritakan ibu. Meski Ibu mengatakan berulang kali akan sosok itu, aku masih belum pernah melihatnya. Katanya, ia