Cerpen, Kuliner, Musik

Kamis, 26 Maret 2020

Keringat

Cerpen Bia R


1.
Orang-orang sudah berkumpul mengerubunginya dengan dandanan necis. Aroma pafrum bercampur dengan aroma bedak, aroma deodoran, aroma hairspray, dan aroma melati di ruang itu. Aroma melati menguar lebih tajam,
menusuk hidungnya yang sedikit besar. Barangkali karena kalung melati yang menggantung di lehernya.

Pagi itu cukup cerah. Namun belum dapat dikatakan mulai panas. Hawa pedesaan di kaki gunung sukar memanas meski sudah hampir tengah hari, apalagi jika matahari baru terbit. Lelaki berjas putih yang duduk di tengah kerumunan orang itu sudah berkeringat saja. Dari dahi, dari ketiak, dari punggung, dari dada, dari perut, dari kaki, dan beberapa anggota tubuh lainnya muncul keringat. Keringat dingin yang membuat tubuhnya panas dan dadanya tak henti berdebar kencang.

Lelaki yang diperkirakan paruh baya itu berulang kali menatap layar ponselnya penuh kecemasan. Mempelai perempuan yang sedari tadi ditunggunya belum juga keluar. Orang-orang sudah saling bisik. Matahari semakin naik, dan pagi hampir habis disepuh waktu. Lelaki itu semakin berkeringat, dan tubuhnya semakin gemetar.

Ilustrasi: Pixabay

Ia menatap ponselnya lagi. Istrinya belun mengabari. Ia khawatir jika  istrinya menelpon saat ia sedang melakukan akad bersama gadis desa yang dipinangnya minggu lalu. Ia juga tidak mungkin menelpon istrinya sekarang. Suasana terlalu ramai, dan ia tak boleh meninggalkan tempat duduknya.
Ia tidak tahu keberadaan istrinya kini. Kemarin sore, istrinya mengatakan akan menemaninya bersosialisai dengan warga sana sebagai kampanye agar ia menjabat lagi. Ia khawatir jika istrinya sedang di perjalanan, kemudian menemukannya sedang melangsungkan pernikahan. Istrinya pasti ngamuk dan menceraikannya. Ia tahu bagaimana lekatnya seorang perempuan dengan sosial media. Ia bisa viral dan gagal nyalon lagi. Ia tidak ingin hilang kesempatan, apalagi sudah mengeluarkan dana hingga milyaran untuk membeli hati orang-orang desa.

Tidak lama munculah perempuan muda mengenakan kebaya putih dan  jarik parang rusak. Perempuan itu mengenakan mahkota dan untaian melati di kedua sisi kepalanya. Ia menjadi semakin tegang saat perempuan ayu itu duduk di sampingnya. Ia menatap ke luar ruangan, dan tak didapatinya orang asing yang baru datang, atau Sedan BMW yang baru parkir.

“Pak, saya ingin ijabnya dipercepat,” kata mempelai lelaki pada penghulu. Kemudian lelaki itu berjabat tangan dengan lelaki yang seusia dengannya, untuk berijab kabul.

“Saya terima nikahnya Sukma binti Sudarma dengan mas kawin 100 gram, dibayar tunai,” ucapnya kontan.

Penghulu yang mengawinkan pasangan baru itu menatap kedua saksi, dan kemudian mereka mengangguk seraya berkata sah. Keringat sudah membasahi kemeja putih lelaki itu. Hatinya masih diselimuti cemas. Bayang wajah istrinya terus menghantui pikiran.

Setelah bersalaman dengan para undangan yang notabennya adalah warga kampung petani, lelaki itu menatap layar ponselnya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari istrinya. Ia buru-buru menepi dari pelaminan, meninggalkan istri mudanya yang sedang duduk manis di kursi pengantin, menikmati organ tunggal dan goyangan biduan cantik.

“Sebentar, saya ada urusan dulu,” kata lelaki itu membawa serta ponselnya ke luar.

Lelaki itu menelpon istrinya dengan perasaan berdebar. Ia berharap perempuan itu kedatangan tamu arisan di rumah, dan mengabarkan tak akan jadi datang. Atau justru istrinya sedang tersesat di jalan menuju kampung yang ia tempati kini, sehingga perempuan itu terus menelpon ingin dijemput.

Tetapi setidaknya, ia sudah menjadi suami sah perempuan muda itu. Vila yang ia sewa untuk menginap cukup jauh dari tempatnya melangsungkan pernikahan, sehingga jika istrinya ke sana, ia bisa segera berganti pakaian dan beralibi pada istri ke dua. Urusan istri pertama, ia juga bisa memanipulasi segalanya demi keselamatan hubungan baik antara ia dan istri pertama, atau dengan yang ke dua. Urusan memanipulasi, ia bukan pemula.

2.
Perempuan cantik itu sedang mondar-mandir di kamarnya. Ia begitu gelisah pagi itu. Pendingin udara yang tidak ia matikan sejak malam tak berhasil menahan keringatnya untuk meluncur dari pori kulit yang putih dan mulus. Dadanya berdebar kencang. Ia merasa sangat tegang dan teringat pada suaminya yang sedang melakukan kunjungan di sebuah desa, di kaki gunung sebagai kampanye.

Perempuan cantik berambut panjang itu menelpon suaminya, tetapi tidak diangkat. Ia menjadi semakin tak keruan dan gelisah, sehingga keringat dingin terus bermunculan dari pori-pori. Perempuan itu menelpon lagi, tetapi tidak dijawab juga.

Ketukan pintu membuat ia terlonjak. Segera dililitkannya tali piyama pada pinggang, sehingga baju tipis itu menutupi tubuh rampingnya yang hanya mengenakan dalaman ketat.

“Nyah, sarapannya sudah siap. Tetapi sopirnya enggak tahu ke mana. Apa Nyonya enggak jadi pergi ke desa?”

“Saya tidak tahu. Tunggu keputusan suami.”

Perempuan itu menelpon lagi suaminya, di hadapan perempuan semok yang beberapa tahun lebih tua darinya itu. Ia khawatir jika tugas suaminya selesai dan keburu pulang. Rencana bersenang-senang bisa hilang.
Perempuan yang dipanggil nyonya itu meminta dibuatkan teh hangat dengan parutan jahe dan susu kambing etawa. Ia juga minta dibuatkan nasi goreng ati ayam dengan taburan tempe krispi pada perempuan yang masih berdiri di hadapannya.

“Menu apa itu Nyah?” Perempuan tua itu menggaruk kepala tak gatal. Barangkali ia heran dengan majikannya yang tiba-tiba ingin ada tempe di makanannya. Padahal ia tahu majikannya yang doyan ke salon dan makan di restoran mahal tiap hari itu tidak menyukai tempe, karena menganggap makanan itu hanya cocok untuk orang miskin.

“Menu yang saya mau,” jawabnya setengah emosi.

“Di dapur tidak ada susu kambing etawa, ati ayam habis, apalagi tempe. Saya harus belanja dulu. Pasti lama.”

“Tidak apa-apa. Saya sedang tidak keruan. Pokoknya saya mau itu, biarpun lama, tetap akan saya tunggu.”

Setelah memastikan pembantunya pergi, perempuan itu masuk kamar lagi. Ia menelpon suaminya untuk yang ke sepuluh kali. Masih tidak ada jawaban. Apa yang sedang dilakukannya sepagi ini, hingga lupa mengangkat telpon? Mungkin lelaki itu sedang sibuk bersosialisasi dengan para petani, atau justru sedang berada di perjalanan. Perempuan itu mendesis kesal. Keringat sudah semakin banyak, membasahi punggung, ketiak, leher, dada, selangkangan, dahi, dan perutnya..
Perempuan itu mengusap keringat di dahinya. Ia masih belum bisa tenang sebelum suaminya memberi kabar. Perempuan itu berdiri di depan cermin dengan wajah tegangnya. Ia menyemprotkan parfum klasik ke lehernya. Kemudian merapikan rambut ikalnya yang panjang, dan menyibak kain tipis yang menutupi bahunya, sehingga terlihatlah bahu indah dan sepasang buah ranum yang menyembul dari balik bra-nya.

Telponnya berdering. Perempuan itu gegas mengangkat telpon dari suaminya. Ia lega dan bahagia saat suaminya mengatakan tidak perlu ke sana karena jalan menuju desa longsor, dan lelaki itu juga mengatakan belum bisa kembali dalam waktu dekat.

Perempuan itu membuka kain tipis yang menutupi tubuhnya dan menanggalkan dalamannya,  sehingga tubuh molek itu benar-benar tanpa sehelai benang. Ia berjalan ke arah lemari, dan membuka lemari jati berukiran jepara yang tak ditutup rapat itu. Dari sana muncul lelaki muda yang barangkali sedang bersembunyi. Mereka saling cumbu dan menjatuhkan tubuh ke kasur.

3.
Lelaki itu tak bisa menahan keringat yang muncul dari tubuhnya. Ia begitu menikmati aroma tubuh wanita yang sedang ditindihnya, yang sama-sama mengeluarkan keringat dalam pergulatan bergelora. Keringat yang harum dan memabukkan. Yang membuatnya tegang dan menggelinjang, dan terkapar, tetapi ia jadi candu hingga melakukannya berkali-kali.

Lelaki itu tidak peduli pada perempuan cantik yang ditinggalkannya di desa untuk mencari kerja sebagai modal kawin. Lelaki itu juga sudah melupakan kekasihnya yang sudah berkhianat itu.  Ia tidak peduli pada lelaki yang menikahi kekasihnya. Toh, perempuan yang sedang ditindihnya kini sama cantiknya, dan jauh lebih menarik, meski bukan dara. Yang terpenting, perempuan itu adalah istri dari lelaki yang mengawini kekasihnya itu.

“Dunia sedang berpihak pada kita. Jangan pergi sebelum ia memastikan kepulangannya,” kata perempuan itu lembut.

“Tidak akan,” jawabnya, mendaratkan kecupan di dahi perempuan itu.

4.
Perempuan semok itu berdiri kaku di dekat pintu kamar yang tak ditutup rapat. Barangkali pemiliknya lupa mengunci pintu karena tak ada orang di rumah. Ia membuka pintu menjadi sedikit lebih lebar. Tentu dengan sangat hati-hati agar tak ketahuan pemiliknya.

Keringat mengucur dari tubuhnya saat ia mendengar lenguhan dan desah perempuan semakin keras. Ia menahan nafas dan begitu tegang, menatapi majikannya sedang bersenang-senang di atas ranjang bersama sang sopir. Ia menjadi teringat pada mendiang suaminya. Ia teringat pada masa perkawinannya, dan tentu ia juga teringat pada tubuh tuannya yang kerap mendekapnya setiap kali saat majikan perempuannya sedang berlibur ke luar negri, atau saat belum pulang dari rutinitas belanja bersama teman arisannya.
Keringat semakin bercucuran membasahi tubuhnya, dan ia meremas gagang pintu menahan sesuatu yang membuat tubuhnya menegang dan jika dibiarkan, ia akan menggelinjang. Matanya tak henti menonton adegan menegangkan itu. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tiba-tiba ia ingin tuannya segera pulang. **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar