Cerpen, Kuliner, Musik

Minggu, 22 Maret 2020

Kopi Bahagia

Oleh: Bia R


Kemala baru saja merapikan kemeja hitamnya yang dimasukan pada rok lipit hitam yang ia kenakan. Gadis itu menatap sepatu flat beludru hitam dan berjalan dengan payung besar hitam yang
tertutup. Entah. Ia selalu membawa payung yang terlihat seperti tongkat pantonim, saat terlipat. Terutama bila musim penghujan. Sebenarnya ia bisa membeli payung lipat yang dapat dimasukan ke dalam tas kulit hitam berbentuk kotaknya. Tapi ia lebih suka dengan payung besar itu. Jika hujan turun, Kemala tidak perlu bersusah payah menarik gagangnya. Tinggal buka kancing payung, dan tekan tombol hitam dekat pegangan. Maka, dor! Tongkat pantonim besar itu merekah menjadi seperti ball gown yang siap melindunginya dari serbuan hujan.
 
Ilustrasi: pixabay

Tetapi bukan. Bukan itu yang membuat Kemala benar-benar menyukai payungnya hingga tidak ingin melepas benda itu. Ada hal lain. Tentu berhubungan dengan tempat yang ia tuju saat ini. Sebuah tempat kecil di sudut kota, dimana orang-orang duduk dengan hidangan kopi yang mengepul. Itulah satu-satunya tempat yang selalu ia kunjungi setiap akhir pekan.
Kaki-kaki mungil itu akan berhenti di depan pintu etalase yang ditempeli logo cangkir dibingkai hati. Kafe Bahagia. Jim yang membuat logonya. Seseorang yang jelas berhubungan dengan tongkat pantonim sekaligus payung hitam Kemala.
“Pesan kopi apa, Nona?”
“Seperti biasa.”
Secangkir kopi hitam untuk menghilangkan kemuakan. Itu adalah kopi yang selalu di pesannya saat menunggu lelaki itu. Menu kopi yang ia pesan saat pertama bertemu si pembuat logo kafe yang akan dikunjunginya kini. Kopi lembut yang mengepul dan menguarkan aroma nikmat. Satu hal yang berbeda dengan kopi ini dibandingkan kopi lainnya adalah dapat membuatnya melayang.
“Apa Kau menyukai kopinya?” Jim duduk di hadapan Kemala, setelah memperkenalkan diri.
“Ya. Ini enak sekali. Rasanya baru dan segar. Aku belum pernah menemukan rasa kopi seenak ini. Di  Milan pun aku tidak pernah menemukan yang seperti ini.”
“Tentu. Karena kopi itu menggunakan bahan-bahan yang sulit didapat. Bahan yang hanya bisa didapatkan dengan cara tertentu. Cara yang rahasia di tempat rahasia.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena aku yang membuatnya.”
“Benarkah?” Kemala memicingkan mata.
“Tentu.”
“Bolehkah aku tahu di mana tempat bahan-bahan itu?” Kemala menyereput lagi kopi di cangkirnya. Ia merasa melayang-layang seperti kapas yang beterbangan. Penatnya hilang seketika.
Lelaki itu tertawa. “Tidak bisa. Jika aku memberi tahumu, resepnya bukan lagi rahasia.”
“Tapi aku ingin menikmatinya lebih banyak lagi. Jadi, aku ingin tahu di mana bahan-bahan yang menghasilkan kopi senikmat ini.”
“Sayangnya aku tidak bisa memberi tahu. Ini adalah bisnis. Aku tidak mungkin membicarakan rahasia pada sembarang orang, karena itu hanya akan menghancurkan semuanya. Jika Kau suka, sering-seringlah berkunjung ke sini. Aku akan membuatkanmu kopi yang sama. Tetapi dengan harga baru. Dan sangat mahal.”
“Kau memanfaatkanku?”
“Tentu tidak. Karena kopi ini dibuat dari bahan-bahan rahasia yang sulit didapat, tentulah harganya mahal. Kau pikir, sesuatu yang sulit didapat adalah hal yang perlu diobral tanpa memikirkan untung dan rugi? Aku memberikan harga murah hanya pada pelanggan pertama. Sebagai bentuk promosi. Apa kau keberatan?” Jim menatap sinis.
Kemala tersenyum angkuh. Ia paling tidak suka diremehkan dalam urusan finansial. Semua orang harus tahu, Kemala adalah perempuan sempurna lagi berkelas. Ia tidak boleh terlihat kerdil di hadapan orang, meski masalah benar-benar membuatnya penat. Kendati pemilik kafe itu tahu, Kemala sedang tidak baik, sehingga memberinya kopi bahagia.
“Tentu tidak.”
Kemala meminum lagi kopinya. Entah mengapa. Kelezatan kopi benar-benar menghilangkan penatnya. Ia bahagia setelah meminum kopi itu. Ia merasa debu-debu di kepalanya luruh tersapu nikmatnya kopi. Hatinya benar-benar bahagia, entah bagaimana kopi itu bereaksi begitu cepat. Saking bahagianya, perempuan itu tertawa dan tak bisa berhenti. Karena tak ingin menjadi perhatian orang, Jim segera membawanya ke suatu tempat.
“Kita mau ke mana?”
“Tempat rahasia. Di tempat itu kau dapat meluapkan semua kebahagiaan yang kau rasakan.”
Kemala mengikuti lelaki itu. Segala yang dilihatnya terasa indah dan menenangkan. Tidak ada kebisingan. Senyap. Dalam kebahagiaan yang meluap-meluap itu, sekonyong-konyong ia memeluk Jim dan mencium bibirnya. Ia melakukan hal yang lebih gila dengan lelaki itu sebagai luapan kebahagiaan yang tak dapat terlukiskan oleh apapun selain melakukan itu.
Kemala baru tersadar telah berbuat konyol pada lelaki itu setelah kebahagiaan perlahan pupus bersama kegelapan malam dan dorongan sesuatu dari perutnya untuk mengeluarkan cairan. Perutnya terasa penuh dan tubuhnya begitu lemas. Matanya terlihat merah. Kemala banyak mengeluarkan keringat.
“Apa aku melakukannya?” tanya Kemala dengan wajah memerah.
“Ya. Kau terlalu bahagia,” jawab Jim datar.
“Maaf.”
“Tidak mengapa. Jika kau menginginkan kopi itu lagi, datanglah ke sini dengan pakaian yang sama. Pakaian ini.” Lelaki itu menyodorkan pakaian dan dalaman hitam Kemala yang tergeletak di lantai.
“Mengapa?”
“Agar aku lebih mudah mengenalimu sebagai pelanggan kopi bahagia. Semua pelanggan kopi bahagia telah memiliki ciri khusus dalam berpakaian. Karena mereka spesial.”
Perempuan ayu itu mengangguk paham, lantas mengenakan pakaiannya. Selain suka disanjung, ia benar-benar tak ingin hilang kesempatam untuk meminum kopi itu lagi hanya karena tidak mengikuti aturan Jim. Sebelum pulang, ia diberi sebuah payung hitam dan besar. Kata lelaki itu, payung yang diberikannya adalah saksi bisu atas kebahagiaan Kemala. Selain sebagai ciri paling utama seorang pelanggan spesial, payung itu akan melipur segala kesedihan Kemala saat ia sedang tidak meminum kopi bahagia. Benda itu harus selalu dibawa ke mana pun ia pergi, jika ia ingin tetap bahagia.
Setiap minggu di akhir pekan, saat libur bekerja di kantor yang membuatnya jenuh, ia datang ke Kafe itu. Satu-satunya Kafe yang menyediakan kopi bahagia meskipun mahal, tapi tetap ia bayar. Kafe yang pemiliknya selalu mengistimewakan Kemala. Bahkan Jim—pemilik kafe itu memberikan tubuhnya untuk Kemala jamah saat perempuan itu meluapkan kebahagiaannya. Meskipun hal itu adalah kemenangan dan hal yang sangat disukai Jim sebagai laki-laki.
***
Kemala berhenti di depan Coffe Shop yang tutup. Pita kuning bertuliskan police line membentang luas di sekitar tempat itu. Ia buru-buru menghampiri pedagang koran yang tengah merapikan dagangannya di dekat tempat itu.
“Pak mengapa tempat ini ditutup?”
“Kasus penipuan," Penjual koran menjawab tak berselera.
“Maksudmu?”
“Tempat ini menjual kopi yang dicampur narkotika jenis morfin dan kokain pada pelanggannya. Mereka menipu para pelanggan dengan menamai kopi itu ‘kopi bahagia’ dan menjual kopi sangat mahal. Tetapi tidak semua pelanggan memesan kopi itu. Hanya pelanggan tertentu. Apa kau adalah salah satunya?”
Kemala mengangguk lemas. Seketika dadanya gemuruh. Ia tidak percaya dengan yang dikatakan penjual koran. Ia tidak melihat berita penipuan ini di televisi atau koran.
“Wah, kasihan sekali. Kau telah diperdaya.” Lelaki paruh baya itu mengambil koran dan menyodorkannya pada Kemala. “Bacalah! Mungkin kau tak pernah membaca koran,” cibirnya.
Kemala meraih kertas-kertas berisi  informasi itu, lalu membacanya. Ada yang menyesaki dada. Kepalanya begitu pening saat membaca berita itu. Sekonyong-konyong Kemala meneguk kopi hitam milik penjual koran. Kopi itu membuatnya menggigil dan melayang-layang, lalu ia melemparkan payung sialan itu ke sembarang arah. Selanjutnya Kemala tidak tahu apapun selain hitam yang pengap dan dingin yang menusuk**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar