Cerpen Bia R
Petaka besar muncul di desa itu. Kengerian menyusup ke desa yang awalnya tentram. Orang-orang menjadi penakut sekaligus pembenci karena sebuah peristiwa yang dianggap mengerikan, meski bisa jadi hanya sebuah kebetulan. Berawal dari seorang anak perempuan yang sakit demam dan tak kunjung sembuh setelah bermain di dekat rumah Wak Juha, kemudian kambing warga yang mendadak hilang saat digembalakan di sekitar rumah itu. Meski telah mencari ke sana-ke mari, herbivora itu tidak ditemukan, sehingga muncul dugaan buruk dari warga tentang pohon-pohon di halaman rumah itu. Bahwa di sana telah berdiri kerajaan jin jahat.
Orang-orang mendadak ngeri serta enggan bila melewati rumah Wak Juha yang halamannya luas dan ditumbuhi pepohonan seperti hutan. Ladang dan kebun berada di sebelah utara rumah lelaki tua itu. Apabila mereka hendak meladang, mereka lebih memilih jalan lain yang lebih jauh daripada melewati tempat sialan itu. Mereka tidak ingin menjadi tumbal dan mengabdi di kerajaan jin, seperti yang sering dikisahkan seorang lelaki pendatang yang mengaku berasal dari daerah lain yang lebih seram.
Ilustrasi: pixabay
Mardi, namanya. Ia satu-satunya orang yang berani datang ke tempat itu dan sengaja berlama-lama di sana. Bahkan tengah malam pun ia sering duduk bersila sembari membakar kemenyan di bawah pohon paling besar yang ia yakini sebagai tahta raja jin. Terkadang lelaki berkulit legam itu mengobrol dengan Wak Juha sembari menumpang makan malam di sana. Ia juga mengaku sering mengobrol dengan raja jin.
Pohon itu minta tumbal. Kata seseorang yang entah siapa, dari seseorang lain yang mengaku didatangi lelaki bersayap dalam mimpinya, pohon itu terlalu besar dan tua, sehingga dijadikan istana jin. Penghuni pohon itu memberi kesialan bagi warga karena kurang sesajen. Seperti yang telah terjadi akhir-akhir ini. Desa dilanda wabah ulat. Ulat hitam yang menjijikan dan muncul di mana saja. Mereka yakin, ulat-ulat itu adalah prajurit raja jin yang ingin menguasai desa.
Mardi membenarkan mimpi dari seseorang tak dikenal itu, tapi ia tak mau ikut memutuskan akan diapakan pohon-pohon tersebut. Ia tak punya hak. Baginya, semua harus dikembalikan pada Wak Juha, pemiliknya. Jika ia membuat usulan penebangan pohon pada warga demi keselamatan, tentu Wak Juha akan membencinya. Lagi pula ia sadar posisinya hanya sebagai pendatang, sehingga tak sepatutnya mencampuri urusan warga.
Dikompori seseorang, seluruh warga yakin, bahwa musibah ini akibat lelaki tua itu. Wak Juha, pemilik rumah panggung di mana halamannya ditumbuhi pohon-pohon kayu yang besar. Salah satunya adalah pohon Jati yang sudah sangat berumur. Pohon jati yang minta tumbal. Pohon raksasa yang sudah berkali-kali ditawar pengusaha kayu, tetapi tak dijual pemiliknya.
Wak Juha tidak tertarik dengan uang yang dijanjikan pengusaha kayu. Apalagi bujukan RT hingga kades yang akan menukarkan tanahnya dengan lahan sawah yang lebih luas dari milik lelaki tua itu. Ia juga tidak gentar dengan ucapan-ucapan mereka tentang setan-setan penghuni pohon yang akan mengganggu ketentraman hidup ia dan istrinya. Tidak pula peduli pada gunjingan warga yang tiba-tiba membencinya. Baginya semua yang mereka takutkan tentang jin-jin pengganggu adalah takhayul belaka. Ia tidak akan terpengaruh oleh apapun dalam urusan menjaga pohon-pohonnya sebagai warisan leluhur. Sekali tidak tetap tidak. Begitulah prinsip yang ia pegang dalam hidupnya.
“Kita harus menebang pohon sial itu,” kata Kades Mujur di acara perkumpulan bersama para warga yang ia adakan tiba-tiba selepas salat ashar.
“Tetapi bagaimana dengan Wak Juha?” Seorang lelaki kurus kering angkat bicara dengan suaranya yang renta dan hampir tak kedengaran.
“Abaikan saja. Ia sudah berlaku gegabah dengan membiarkan pohon hantu itu terus tumbuh. Sekarang ulat, mungkin nanti-nanti akan timbul teror siluman ular dan genderwo. Akibatnya, nyawa warga terancam. Kita tidak boleh membiarkan banyak nyawa terancam hanya karena seorang lelaki uzur yang keras kepala itu.” kata RT Ukar. Urat-urat lehernya terlihat menegang seolah tak dapat lagi membendung kekesalan pada Wak Juha yang sengaja tak diajak berkumpul di sana.
“Betul,” kata seorang yang duduk di barisan paling belakang, di setujui beberapa orang lainnya yang sebagian hanya mengangguk.
“Tapi, Wak Juha juga punya hak untuk menentukan. Ia juga warga sini, dan pemilik pohon itu. Kita tidak bisa main tebang pohon orang sembarangan,” Mardi angkat bicara seolah membela orang yang kerap memberinya hidangan makan malam itu. Beberapa warga diam sejenak, merenungkan perkataan lelaki yang mengaku menguasai ilmu kebatinan tersebut.
Suasana menjadi hening seketika. Orang-orang yang berkumpul diam membisu merenungkan sesuatu. Entah itu jalan keluar, kebaikan Wak Ukar, atau hal lain yang bisa jadi sesuatu yang berhubungan dengan keuntungan dan siasat yang gagal atau akan berhasil. Sampai seseorang bertubuh jangkung berdiri dan menatap kades untuk meminta izin bicara, lantas menatap seluruh warga.
“Bagaimana kalau kita temui dan bujuk Wak Juha. Ia pasti akan melunak jika diajak bicara baik-baik. Bukankah selama ini kita mengenal Wak Juha sebagai orang yang baik?”
“Kami sudah meminta baik-baik padanya. Tapi ia tetap menolak. Ia lelaki tua yang hanya mementingkan urusan sendiri. Ia tidak akan peduli dengan keselamatan warga. Jangan hanya karena Juha seorang, mati sedesa,” kata seorang pemuda dari depan berapi-api. Barangkali kesabaran anak kades itu telah pupus oleh kekesalannya yang bercampur kekhawatiran, atau hal lainnya yang tidak mungkin ia jelaskan.
“Betul. Aku tidak mau mati.” Seseorang menyetujui diikuti yang lain, hingga hampir seluruhnya sepakat.
“Nanti malam kita tebang pohon sial itu ramai-ramai. Biar Wak Juha tak menghalangi, ada baiknya kita biarkan mereka tidur dulu, lantas menebangnya. Kita tahu, biar tua, sepasang mahluk bau tanah itu masih segar dan bertenaga,” usul kades yang segera disetujui warga lain.
Kata kades, pohon itu akan jauh lebih bermanfaat jika ditebang. Kayu-kayunya dapat dijual mahal ke pengusaha, dan uangnya bisa dibagi dua. Sebagian untuk Wak Juha, dan sebagian lagi akan disimpan kades untuk keperluan desa. Ia katakan pada warganya bahwa desa memiliki banyak keperluan dan membutuhkan banyak dana. Selama ini ia terlalu sering menambah biaya keperluan desa dengan uang pribadinya dari hasil memanen sawah yang luasnya hektaran, yang ia dapat dari beberapa warga yang menggadai untuk keperluan hidup yang kian sulit dipenuhi. Segalanya demi kebaikan semua warga, begitu katanya.
***
Pada malam yang sunyi, warga dan kades datang menemui pohon sial itu. Alat-alat tebang sudah disiapkan beserta para penebang yang telah ahli. Rumah Wak Juha benar-benar sepi dan gelap. Nampaknya sepasang manusia uzur keras kepala itu benar-benar telah lelap tidur sambil mendengkur. Dipimpin oleh beberapa ahli kebatinan yang akan menaklukan raja jin dan bala tentaranya, warga bergerak mendekati pohon-pohon sial itu. Ketakutan benar-benar hilang dari diri mereka oleh ucapan para ahli ilmu kebatinan yang meyakinkan. Mereka semua mengaku datang dari desa-desa yang lebih mengerikan, sehingga tak asing lagi bila melihat hantu atau dedemit. Kades yang mengundang mereka.
Tiba-tiba mereka terlonjak kaget melihat sesosok makhluk hitam kerinyut menempel di batang pohon. Makluk itu bugil dan mengerikan. Para ahli kebatinan maju dan mengangkat tangan dengan gemetar. Mulut mereka berkomat-kamit merafal mantera, entah mantera apa. Bau kemenyan menguar tajam, menusuk penciuman. Tidak ada yang membakar kemenyan di antara mereka, termasuk ahli kebatinan yang paling depan memimpin. Tiba-tiba, dari pohon lain, ada yang bergelantung dan tertawa. Perempuan berbaju putih kusam dan rambut putih terurai. Mulutnya dipenuhi nipah. Sesekali ia meludah. Sekonyong-konyong, orang-orang berlari tunggang langgang mengikuti langkah kades, termasuk Mardi dan kawan-kawannya yang awalnya berlaga akan menaklukan Raja Jin.
Melihat orang-orang menjauh dengan langkah seribu, kuntilanak itu turun, bergelantung menggunakan tumbuhan mahkota dewa, dibantu dedemit hitam. Mereka tertawa menatap pungung warga yang tebirit-birit menyelamatkan diri dari dedemit.
“Seenaknya saja menebang pohon orang. Kalau pohon-pohon ini ditebang, apa yang akan kita wariskan kepada cucu-cucu dari cucu kita?” kata lelaki tua yang tubuhnya diwarnai arang itu seraya berjalan menuju rumah mereka yang gelap dan berasap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar