Cerpen
![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Oleh: Bia R
Di depan cermin hias tua yang menempel di dinding, sesosok tubuh sintal berkulit belang sedang berdiri. Matanya yang sembab seperti sudah menangis berhari-hari terus memperhatikan wajahnya yang kusam. Terkadang ia meraba wajah itu dengan tangannya yang kasar, lalu melihat tangannya yang hitam sampai beberapa senti ke atas sikut, dan sisanya terlihat putih.
Dulu,
sebelum ia melahirkan anak dan menjadi kuli tambal ban, tangan itu adalah sepasang tangan yang cantik. Putih seperti pualam. Lembut dan tak sekasar kini. Bahkan wajah kusam yang dipenuhi bintik hitam itu adalah wajah yang terlihat seperti bidadari tersorot rembulan, dulu. Ya. Tetapi itu dulu, sebelum ia menjadi korban pengkhianatan sumpah seorang yang mengaku lelaki.
sebelum ia melahirkan anak dan menjadi kuli tambal ban, tangan itu adalah sepasang tangan yang cantik. Putih seperti pualam. Lembut dan tak sekasar kini. Bahkan wajah kusam yang dipenuhi bintik hitam itu adalah wajah yang terlihat seperti bidadari tersorot rembulan, dulu. Ya. Tetapi itu dulu, sebelum ia menjadi korban pengkhianatan sumpah seorang yang mengaku lelaki.
Barangkali menjadi cantik adalah sebuah kutukan baginya, jika tahu akhirnya akan bernasib malang. Bagaimana tidak. Seorang mahasiswi ekonomi yang serba dicukupkan orang tua harus menjalani hidup serba kurang. Setelah menikah dengan keparat itu, hidupnya tak pernah dicukupkan, kecuali oleh nafsu binatangnya. Artinya perempuan itu hanya dimanfaatkan tubuhnya sebagai pemuas berahi suaminya.
Ia adalah Marliana. Wanita yang tak pernah berhenti menyalahkan diri atas keputusan yang diambilnya. Atas pembangkangan pada orang tua, dan keras kepalanya. Ia juga rela meninggalkan pendidikan sebelum jadi sarjana. Demi lelaki busuk bertopeng rayuan, ia rela berpisah dari orang tua yang menyayanginya dengan tulus.
"Kau memang bodoh Marliana. Kau bodoh!" kecam perempuan itu pada bayangan yang terpantul di cermin.
Seandainya ia tidak kawin lari dengan lelaki yang tamatan STM itu, mungkin saat ini ia sedang menikmati makan malam bersama keluarganya. Mungkin pula tengah menemani makan suaminya--lelaki lain yang menjadi jodohnya, yang jauh lebih baik dari pecundang itu. Ya, ia adalah pecundang. Bukankah lelaki yang meninggalkan tanggung jawabnya adalah pecundang? Hidup Marliana tak akan seperih ini, dan tubuhnya yang ramping tak akan bulat hitam seperti ban truk yang selalu ia perbaiki.
Tidak ada yang tidak jatuh cinta pada Marliana. Marliana yang dulu. Marliana yang selalu wangi, rapi, dan modis. Marliana yang selalu memperlihatkan kaki jenjang nan mulus, dan belahan dada. Marliana yang langsing dan memikat. Marliana yang sering dibicarakan banyak lelaki atas kemolekan dan elok tubuhnya. Tetapi itu dulu. Sebelum Marliana melahirkan tiga anak dalam jarak dekat. Sebelum Marliana mengonsumsi pil kontrasespi yang tidak cocok dan membuatnya gemuk serta berjerawat, tetapi terus dipakai karena tak kuat membiayai kebutuhan anak hanya dari bengkel suaminya. Tubuh yang elok sebelum Marliana diduakan suaminya, sebelum ia diterlantarkan, dan menjadi kuli tambal ban truk.
Gedoran pintu membuat Marliana tersadar dari nostalgianya. Dengan segera, tubuh sintal berbalut daster kumal itu segera menghampiri pintu di ruang tamu. Dibukanya pintu tua itu. Seorang lelaki jangkung sudah berdiri dengan muka masam.
"Buka pintu kok lama sekali." Lelaki itu masuk begitu saja ke kamar. Tak lama, ia berteriak.
"Mar! Siapkan air hangat untukku. Aku ingin mandi."
"Ya," sahut Marliana pasrah. Jika saja tak ingin bertengkar dan didengar anak-anaknya, tentu ia tidak akan sudi. Mengapa pula ia harus melayani lelaki yang mengaku suaminya saat ingin dihormati dan dilayani, tetapi tak pernah menafkahi hidupnya? Lahir dan batin.
Usai menyiapkan air, Marliana masuk ke kamar untuk menyiapkan baju pecundang itu. Kini, baginya lelaki yang mengaku suaminya itu tak jauh dari pecundang jalanan. Bahkan ia yakin lelaki itu tidak lebih tangguh darinya. Buktinya, ia tidak bisa bertahan dengan satu perempuan yang menjadi buruk rupa karena kelakuannya sendiri. Ia memilih menikah lagi meski tak sanggup adil pada keduanya. Begitulah jika menikah hanya didasari nafsu setan, pikir Marliana.
"Malam ini makan dengan apa?" tanya lelaki itu tanpa malu. Seharusnya ia berpikir ulang sebelum bertanya seperti itu. Apakah ia sudah memberi Marliana uang untuk belanja, atau tidak sama sekali. Tetapi bagi Marliana itu sudah biasa.
"Hanya ada tahu goreng. Aku belum dapat gaji," sahutnya lesu.
"Ya sudah. Aku makan di luar saja." Lelaki itu merapikan rambutnya dan menyemprotkan farfum, kemudian berlalu. Tidak seperti biasanya ia tidak marah dulu baru keluar. Barangkali kantongnya sedang dipenuhi uang.
Marliana mendengus. Ia sudah yakin jika pecundang itu akan makan di luar bersama istri mudanya. Perempuan murahan yang kerap memaki Marliana apabila suaminya telat memberi uang. Padahal Marliana sendiri tidak pernah diberi uang lagi sejak lelaki itu menikah lagi. Ia tak akan menjadi kuli tambal ban jika suaminya menafkahi.
Pernah suatu kali Marliana protes pada suaminya. Ia meminta keadilan. Ia juga istrinya dan berhak mendapatkan nafkah lahir batin. Termasuk ketiga anaknya yang juga diterlantarkan. Tetapi lelaki itu justru memarahinya. Membuat lubang luka di hati Marliana.
"Kau itu seharusnya mikir, Mar. Lihat! Kau sangat jelek, dan tak pantas mendapatkan apapun dariku."
Perkataan menyakitkan itu tidak akan pernah dilupakannya. Bahkan untuk setiap makian istri muda suaminya. Marliana yakin wanita itu pun akan memiliki nasib sama sepertinya. Dicampakan setelah hilang kemolekannya.
Marliana segera mengusap genangan air di sudut matanya. Untuk apa ia menangisi keadaan? Ia kembali bercermin dan memerhatikan tubuhnya. Tubuh gemuk yang tak terurus. Tubuh yang sudah lama tak disentuh suaminya.
Marliana berpikir jika ia akan berhenti meminun pil kontrasepsi. Toh ia tidak akan lagi ditiduri suaminya dan tentu tidak akan membuatnya hamil. Dengan begitu, tubuhnya dapat kembali molek karena kontrasepsi perusak itu tidak lagi ia konsumsi. Ia bisa jadi pelayan restoran jika tubuhnya bagus. Atau mungkin menjadi model, karena ia merasa masih muda dan akan kembali cantik setelah berhenti meminum pil itu. Sungguh, ia akan membuat suaminya menyesal.
***
Sudah tiga bulan Marliana berhenti meminum pil kontrasepsi. Selama itu pula suaminya tidak kembali. Tubuhnya terlihat ramping seperti sedia kala. Bahkan wajah kusam berjerawat itu kembali mulus dan berseri. Padahal ia tidak melakukan perawatan apapun selain menggunakan sabun dan krim wajah murahan. Tetapi tangannya tetap belang karena terik mata hari yang menjemurnya saat harus mencopot dan memasang ban truk di siang hari.
Suatu hari Marliana mendapat pelanggan yang butuh penambahan angin pada ban truknya. Ia tidak sadar ketika itu, pemilik tambal ban terus memperhatikannya dengan buas. Hingga Marliana selesai melakukan pekerjaannya, mata buas lelaki legam itu tak henti menatap tubuh Marliana yang molek.
Saat itu sore dan hujan turun. Jalanan begitu sepi dan tak ada orang yang menambal ban atau sekedar tambah angin. Barangkali sopir truk tadi menjadi pelanggannya yang terakhir di hari itu. Tidak ada sesiapa di sana selain Marliana dan lelaki itu. Lelaki yang tiba-tiba menghampiri Marliana dan memeluknya erat, kemudian menyeretnya ke sebuah ruangan di sekitar tambal ban itu. Kau tak perlu lagi menanyakan apa yang terjadi. Karena kau pasti sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Jika kau tak tahu kau boleh menentukan apa yang terjadi selanjutnya. Terserah. Yang jelas, aku tidak akan menulisnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar