Cerpen, Kuliner, Musik

Kamis, 27 Desember 2018

Menjelang Panen


Cerpen Pikiran Rakyat

“Tani” karya Alanwari/ media pensil warna di atas kertas
Di pagi yang masih kelewat dini, orang-orang berduyun ke tonggoh dengan wajah penuh amarah. Mereka tidak lagi memedulikan udara yang gigil, atau perut keroncongan karena sama sekali belum diisi. Mereka tidak takut masuk angin. Tidak. Tidak ada yang mereka pedulikan selain aliran air yang kecil dan sawah yang gagal panen.

Kemarau panjang masih belum berakhir. Tanah mulai kerontang dan air malah diselewengkan beberapa warga. Belum lagi hama terus menerjang ladang padi. Mereka harus mempertahankan sawahnya agar masih bisa memanen meski dengan hasil sedikit. Ya. Daripada nol sama sekali.

Hampir setiap pagi dan petang orang-orang bergantian ke tonggoh. Tempat di mana aliran air menjadi pusat irigasi sawah landeuh. Kadang seorang, kadang dua, atau tiga. Mereka membuka penyumbat aliran air ke sawah landeuh yang disumbat warga tonggoh untuk keperluan sawah mereka. Sehingga sawah landeuh hanya teraliri aur seadanya dari susukan. Terkadang, hal inilah yang mengundang perselisihan besar antar kampung. Barangkali hal itu pula yang membawa para warga landeuh kompak mendatangi irigasi di tonggoh dengan raut wajah penuh amarah.

Hanya Mujib yang tidak ikut membenarkan saluran air. Ia pun seorang petani padi. Tetapi tak pernah terlihat sekali saja berada di barisan orang-orang itu. Ia seperti tidak peduli pada sawahnya, meski istrinya terus menceramahi ia untuk merawat sawah dengan baik sebelum panen.

“Kang, sawah sudah dilongok?” Marni, istrinya tiba-tiba ke luar menemui Mujib yang sedang mencabuti rumput di sekitar kebun singkong, di belakang rumahnya. Perempuan itu kesal melihat orang-orang yang sedang berjalan ke utara, ke pusat pengaliran air, sementara suaminya masih berkutat dengan kebun singkong yang tidak begitu banyak memberi keuntungan.

“Sudah,” jawabnya sembari terus memangkas rumput di sekitar tanaman. Ia tidak ingin ada eurih yang merusak kualitas singkong.

“Kebagian air?”

“Iya.”

“Jangan bohong, Kang. Orang-orang ke tonggoh jang neang cai.Sawah mereka kekeringan. Sawahmu juga mustahil kebagian air.”

Mujib diam saja. Ia memang sudah memeriksa sawahnya tadi malam. Urusan kebagian air banyak atau tidak ia tidak peduli. Toh padinya akan tetap panen meski dengan sedikit air.

Semut-semut mulai berdatangan dari segala arah. Berkerumun di mana saja, hampir di setiap tempat. Sebuah pertanda bahwa beras akan mahal. Dan sebab itulah Marni terus menceramahinya untuk mengurus sawah dengan benar. Agar panennya lebih banyak dan tentu akan menuai banyak pundi-pundi rupiah. Keinginan Marni membeli perhiasan seperti para tetangga bisa segera terwujud.

Meski beras bakal mahal, harga jual padi tidak akan berubah. Tetap murah dan mutlak harga dari tengkulak. Mujib tidak berencana menjual hasil panen padinya pada tengkulak. Ia akan menyimpan padi untuk keperluan makannya sehari-hari. Jika ia menjual padi dan dibayar murah, sementara harga beras naik, tentu akan membuatnya rugi besar. Dari mana ia akan membeli beras untuk sehari-hari? Ia bisa menjual singkong untuk membeli keperluan lainnya. Yang jelas ia tidak akan menjual padinya.

“Kang, malah diam. Ayo ikut benerin saluran air yang disumbat orang tonggoh. Akang kenapa sih enggak pernah dengerin nasehat istri.”

Mujib tidak benar-benar mendengarkan ocehan Marni. Ia lebih memilih fokus pada rumput yang sedang dikored-nya. Percuma bicara pada orang yang mudah terpengaruh tetapi tidak tahu apa-apa. Berdebat dengan orang yang tidak tahu apa-apa jauh lebih menjengkelkan daripada dengan orang serba tahu, pikir Mujib.

“Akang! Cepat ikuti mereka. Betulkan saluran irigasi ke sawah kita.” Marni bersua dengan nada tinggi, penuh kekesalan.

“Kita tidak perlu ikut-ikutan, Mar. Urusan air, kita sudah kebagian. Walau sedikit tetap harus disyukuri. Daripada ingin banyak dan rela bertengkar untuk satu hal yang belum tentu didapat,” jawab Mujib.

“Tetapi....”

“Mar, ayo ikuti aku,” katanya seraya berjalan ke arah landeuh, ke tempat dimana ia menanam padi. Ada yang ingin ia perlihatkan pada Marni, sebaai cara agar perempuan berusia kepala tiga itu diam.

“Lihatlah Mar!” Mujib menunjuk ke beberapa kotak tanah berlumpur yang baru ditanami padi. Belum berbuah sama sekali. Ia menunjuk setiap sawah-sawah yang baru ditanami padi itu yang hampir seluruhnya baru ditandur dan menyebut pemiliknya satu per satu.
Terakhir, Mujib membawa Marni ke sawah paling landeuh. Di sanalah sawah Mujib. Hamparan padi terlihat kuning dan buahnya merunduk. Beberapa hari lagi siap di panen. Hanya sawah itu yang siap panen. Sementara yang lain masih jauh.

Seharusnya mereka panen serempak. Perselisihan antara warga landeuh dan tonggoh mengakibatkan orang-orang saling merusak sawah. Semua karena perebutan irigasi sawah masing-masing. Mereka berebut air agar tidak gagal panen sebab kemarau. Padahal kegagalan panen tidak melulu akibat kurang air. Percuma saja sawah teraliri air, tetapi tanaman habis diserang hama. Apalagi jika hamanya manusia. Seperti mereka yang saling merusak sawah dan tanaman, alhasil mereka harus mengulang lagi dari awal.

Itulah sebabnya Mujib tak ingin ikut-ikutan seperti mereka. Ia masih bisa mensyukuri aliran air yang kecil. Ia tidak ingin terlibat dalam perselisihan tak berujung itu. Memperebutkan air demi sawah yang tak begitu luas. Sementara tali silaturahmi semakin renggang bahkan berujung permusuhan hingga terancamnya keselamatan nyawa.

Marni terdiam seribu bahasa. Ia tidak mengatakan apapun. Untuk ketidaktahuannya, dan omelannya pada Mujib pun ia tidak meminta maaf. Tidak ada reaksi kagum atau apapun dari Marni selain diam.
Sukabumi, 2018

Bia R, lahir dan tinggal di Sukabumi

Pernah tersiar di Pikiran Rakyat edisi 28 Oktober 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar