Cerpen, Kuliner, Musik

Kamis, 27 Desember 2018

Bulu-bulu Pembunuh



Oleh: Bia R

Teriakan Bi Sumi membuat para tetangga berlari menghampirinya, juga ibu yang sibuk menuang susu ke sereal. Aku buru-buru menjejalkan sarapan, lalu berlari ke arah rumah Joice. Tadi Sumi pergi ke sana untuk mengajak sepupuku sarapan bersama.

Orang-orang sudah berkumpul di rumah Joice. Wajah mereka terlihat tidak menyenangkan. Beberapa orang meringis dan bergidik. Ada juga yang mengetuk kepala dan perut mereka. Tingkah yang aneh. Saat kudekati ibu, Marno menarikku dari kerumunan.
“Anak kecil dilarang melihat,” ujar Marno menuntunku ke dalam mobil.
“Tapi aku ingin tahu apa yang terjadi.”
“Itu bukan urusan anak kecil. Duduk manis saja di sini. Kau sudah terlambat pergi ke sekolah.” Lelaki itu melilitkan sabuk pengaman ke tubuhku.
Kehebohan barusan mengingatkanku pada merpati yang sering main ke rumah dan peristiwa semalam . Pagi ini ia tidak datang ke jendela kamar dan terbang ke jendela dapur untuk memakan sereal yang belum dicampur susu. Aku yakin semua itu ada hubungannya dengan kehebohan di rumah Joice.
“Marno, apakah mereka melihat bangkai burung?”
Marno mengangguk dan membelai rambut ekor kudaku. Katanya, burung itu terluka parah sehingga anak kelas satu SD sepertiku tidak boleh melihatnya.
Aku tidak tahu bagaimana keadaan burung itu saat mati. Hanya saja, bulu-bulu burung itu bertebaran di kamar dan jendela. Bulu-bulu halus berwarna putih dengan bercak merah. Beberapa tetes darah juga berceceran di lantai kamar.
Burung itu akan bahagia di surga, kata Marno. Ia sangat baik dan penyayang. Buktinya, burung itu selalu membangunkan tidurku saat pagi. Ia juga suka membawakanku setangkai daisy yang ditanam Joice.
“Marno, apakah burung itu akan menjadi hantu?” Bayangan merpati putih itu tidak juga pergi dari kepala.
“Tidak. Ia sudah bahagia di surga. Mengapa ia harus menjadi hantu?”
“Bagaimana jika ia ingin mebalas dendam?”
“Untuk apa dendam?”
“Semisal ada yang membunuhnya,” jawabku, mengingat kejadian semalam.
Merpati itu datang manabrak jendela kamar yang tertutup. Seekor gagak hitam mengejarnya. Aku pernah melihat gagak itu keluar dari bulu hitam yang dijadikan hiasan bandu di kamarku.
Tak lama Joice memanggil. Aku hendak menghampirinya tapi pintu kamar terkunci. Tiba-tiba gagak menyambar tubuh merpati itu. Matanya tajam menatap, dengan suara yang sangat seram. Aku menggigil memanggil ibu, tapi tidak datang. Mungkin masih sibuk mengobrol dengan temannya yang datang dari Belgia. Marno menghilang entah ke mana. Joice terus memanggil dari tempat lain di rumahku. Perempuan itu terdengar meminta tolong. Aku bingung harus bagaimana. Pintunya terkunci.
Merpati putih itu menghantam lagi jendela kamar. Bulu-bulunya yang putih rontok dan bertebaran karena diserang gagak. Kubuka jendela untuk membiarkannya masuk. Sayap burung itu terlihat lecet dan berdarah. Gagak merebos kaca jendela hingga pecah. Mereka saling hantam. Erangan merpati bersahut dengan suara gagak yang berkoak. Aku gemetar menutup telinga dan merangsek ke sudut ruangan. Joice berteriak, memintaku untuk berlari dengan suaranya yang semakin tak jelas.
Merpati itu terbang ke arah rumah Joice dan gagak mengejarnya lagi. Entah apa yang terjadi di sana. Tapi aku yakin mereka masih bertarung.
Kamar sangat berantakan. Bulu burung dan darah tercecer di mana-mana. Aku segera pindah ke ranjang membiarkan bulu-bulu itu berserak di lantai putih yang sudah dipenuhi bercak darah.
Saat memejamkan mata, tiba-tiba angin bertiup dari jendela. Bulu-bulu itu bertebaran memenuhi ruangan seperti terbawa puting beliung. Ada banyak suara gaduh dari bulu itu. Erangan, jeritan, gelak tawa, desisan dan suara gagak yang mengoak.
Lelaki berambut panjang itu terkekeh mendengar ceritaku. Ya. Aku memang anak kecil yang tidak tahu apapun selain kartun yang sering kutonton. Marno benar. Aku hanya terbawa pengaruh kisah-kisah dalam dongeng yang sering dibacakan Joice. Mungkin yang kulihat semalam memang halusinasi. Esoknya, kamarku tetap bersih dan rapi. Bulu-bulu itu hilang.
***
Joice ditemukan terkapar tanpa busana di ambang pintu rumahnya. Kulitnya melepuh dan berdarah. Dadaku berdebar saat mendengar obrolan ibu dan para tetangga. Rupanya bukan hanya merpati itu yang mati tapi, juga kakak sepupuku. Aku meremas dada menenangkan jantung yang terlalu kuat berdegup.
Pasti gagak itu yang membunuhnya. Sepertinya ia membenci kebaikan. Joice sangat baik juga merpati itu. Atau karena Joice dan merpati itu sangat cantik hingga gagak iri dan melenyapkan mereka.Tetiba saja seseorang menangkap tubuhku dari belakang.
“Mengapa kau menguping?” Marno menatapku tajam seakan aku telah melakukan kesalahan.
“Aku tidak sengaja mendengarnya. Lagi pula mereka terlalu gaduh.”
Lelaki yang selalu tersenyum itu menggendongku ke kamar.
“Apakah ada yang melukai Joice?” Tanyaku. Ia hanya diam memijat keningnya. “Marno apakah seekor gagak membunuh Joice?” Ia tidak menjawab. Setelah berdiam sejenak Marno memintaku untuk segera tidur. Ia akan pergi untuk mengantar tamu ibu pulang.
Angin berembus dari arah jendela, menerbangkan selembar bulu burung berwarna putih dan mendarat mulus di  hadapanku. Lalu perlahan muncul bercak merah dari bulu itu. Titik merah itu terus membesar merubah warna bulu yang ada di hadapanku. Tiba-tiba warna merahnya membesar menjadi genangan darah yang mengucur dari bulu tersebut.Rintihan dan isak tangis terdengar begitu jelas. Aku mencari arah suaranya tapi tidak kunjung menemukan.
Semua begitu jelas. Tangisan yang keras dan jeritan yang membuat sakit telinga. Tiba-tiba darah semakin banyak mengalir. Mengenai jempol dan telapak kaki. Rasanya begitu hangat. Tiba-tiba suara gagak terdengar terdengar lagi. Dari jendela angin merangsek ke kamar meniup bulu hitam yang ada pada jepitan rambut di meja. Bulu  itu melayang di udara, membesar, dan berubah menjadi gagak. Matanya merah menatapku tajam. Gagak itu menghampiriku.
“Marno! selamatkan aku.”
Dari luar terdengar hentakan kaki yang berlari ke arah kamar. Seseorang membuka pintu yang terkunci. Gagak hitam meluncur ke luar. Aku menghambur ke pelukan Marno.
“Marno, aku takut,” kataku memeluknya.
“Tenang, semua akan baik-baik saja.” Marno memberiku segelas susu coklat.
Kata Marno, ia akan segera menemukan siapa pembunuh Joice. Sebenarnya sudah kukatakan padanya untuk menangkap seekor gagak. Tapi ia hanya terbahak dan memintaku segera tidur.
Ketika Marno mematikan lampu dan keluar, angin berdesir mengepung ruangan. Ada sesuatu yang menyentuh kakiku. Benda itu bergerak-gerak membuatku geli. Semakin lama sepertinya benda itu semakin banyak, seperti kawanan semut yang sedang menggerayangi kaki.
Aku terduduk. Cahaya bulan yang menyoroti selimut dari jendela yang terbuka, membantuku melihat apa yang ada. Saat menyingkap selimut Bulu-bulu hitam menempel di kakiku.  Semakin banyak dan naik ke atas kaki. Bulu-bulu itu bercicit gaduh. Aku mencabut satu bulu yang yang bergerak-gerak. Bulu itu menacap kuat di kaki seakan ia tumbuh dari sana. Kucabut ia sekuat mungkin. Rasanya perih dan linu. Bulu hitam itu menyisakan lubang sebesar ujung lidi di kaki. Darah mengucur dari lubang itu. Bulu-bulu lain bergetar dan bercicit sangat gaduh. Dadaku bergemuruh.
“Marno! Ibu!” Tak kudengar tanda-tanda mereka akan datang.
Aku menelan ludah. Bulu-bulu itu semakin menyebar ke seluruh kaki. Bulu burung yang hitam dan menyeramkan.
Koak... Koak... Koak...
Seekor gagak hitam muncul di hadapan. Aku merangsek ke belakang. Menarik selimut dan menutupi wajah. Gagak itu terus berbunyi. Sepertinya ia sedang terbahak. Jangan-jangan ia mau membunuhku seperti Joice dan merpati putih itu.
Bulu-bulu hitam di tubuh semakin banyak. Ada sesuatu yang berkeretak dari tanganku. Tulang-tulang hitam muncul dari sana. Tulang-tulang itu menumbuhkan daging yang juga hitam dan bulu-bulu burung bermunculan di sana. Aku menjerit sekeras mungkin.
“Aku tidak mau menjadi gagak! Marno, Tolong!”
Gagak terbahak. Kulempar tubuh hitam itu dengan gelas bekas susu. Tepat mengenai sayap kirinya yang terbuka. Gagak itu terjatuh mengenai serpihan kaca gelas. Aku buru memukulnya dengan kaki lampu meja. Ia semakin lemah dan kucabuti bulu-bulunya. Sama seperti gagak itu mencabuti bulu-bulu merpati dengan paruhnya.
“Mati, kau!”
Bulu-bulu itu telah rontok bertebaran mengisi ruang kamar. Darah segar mengucur dari tubuh hitam si gagak yang sudah tidak berdaya. Dari bulu-bulunya kudengar rintihan dan suara minta tolong. Aku tak peduli. Gagak itu lebih baik mati daripada menggangguku.
Perasaanku lega sekarang. Dendam Joice dan merpati putih itu telah terbalaskan, meski tubuhku harus bersayap dan memiliki bulu hitam. Aku kembali terbaring di ranjang dan menutup mata.
***
Sinar matahari menerobos jendela kamar. Aku menangkap sinar emasnya di mata yang baru saja terbuka. Bau amis tercium begitu kuat. Aku teringat pada gagak yang kuhabisi tadi malam.Marno berteriak memanggilku. Aku tak menyahutinya. Ia tidak boleh melihat bulu-bulu hitam di tubuhku. Aku menutupi tubuh dengan selimut.
Suara knop pintu diputar dan pintu terbuka. Kulihat Marno berdiri mematung di sana. Wajahnya pucat dan ia hanya memandangi sesuatu di dekatku.

“Apa yang terjadi?” Marno menghampiri yang dilihatnya.
Aku terbangun memeriksa sesuatu yang dilihat Marno. Kulihat ibu terbujur kaku dihadapan ranjang. Tubuhnya telanjang dengan kulit melepuh.

Ilustrasi: Pixabay

#cerpen #cerpen_seru #cerpen_Bia_R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar