Cerpen, Kuliner, Musik

Minggu, 30 Desember 2018

Tubuh Marliana

Cerpen

Ilustrasi: Pixabay
Oleh: Bia R

Di depan cermin hias tua yang menempel di dinding, sesosok tubuh sintal berkulit belang sedang berdiri. Matanya yang sembab seperti sudah menangis berhari-hari terus memperhatikan wajahnya yang kusam. Terkadang ia meraba wajah itu dengan tangannya yang kasar, lalu melihat tangannya yang hitam sampai beberapa senti ke atas sikut, dan sisanya terlihat putih.
Dulu,

Kamis, 27 Desember 2018

Menjelang Panen


Cerpen Pikiran Rakyat

“Tani” karya Alanwari/ media pensil warna di atas kertas
Di pagi yang masih kelewat dini, orang-orang berduyun ke tonggoh dengan wajah penuh amarah. Mereka tidak lagi memedulikan udara yang gigil, atau perut keroncongan karena sama sekali belum diisi. Mereka tidak takut masuk angin. Tidak. Tidak ada yang mereka pedulikan selain aliran air yang kecil dan sawah yang gagal panen.

Bulu-bulu Pembunuh



Oleh: Bia R

Teriakan Bi Sumi membuat para tetangga berlari menghampirinya, juga ibu yang sibuk menuang susu ke sereal. Aku buru-buru menjejalkan sarapan, lalu berlari ke arah rumah Joice. Tadi Sumi pergi ke sana untuk mengajak sepupuku sarapan bersama.